Upaya Mencegah Kenakalan Remaja ‘Ngelem’ dengan Edukasi dan Intervensi Berbasis Agama di Pesantren Ramadhan Kota Padang Tahun 2025
DOI:
https://doi.org/10.47841/semnasadpi.v6i1.224Keywords:
Anak Remaja, Kenakalan Remaja, Ngelem, Pesantren Ramadhan, Akhlakul KarimahAbstract
Ngelem (glue-sniffing) adalah salah satu bentuk kenakalan-remaja dengan melakukan penyalahgunaan zat-inhalan sebagai ‘pengganti’ obat-golongan-narkotika, untuk mendapatkan sensasi-baru, euforia, sensasi-seperti-mabuk atau untuk mendapatkan efek-keracunan. Bahaya kecanduan-ngelem berupa gangguan-kesehatan-fisik dan mental, dan kematian-mendadak. Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan masalah kesehatan serius seperti kerusakan otak, hati, dan organ lain serta kerusakan neurologis yang tidak dapat dipulihkan. Permasalahan: kasus kecanduan-ngelem pada anak-remaja terus meningkat, terutama pada anak-remaja yang mengalami stres, kecemasan, atau depresi, pada populasi orang miskin dan pada anak-remaja yang putus sekolah. Solusi: mencegah anak-remaja agar tidak tergoda melakukan praktik-ngelem dengan teknik edukasi dan mengembangkan dan menerapkan intervensi yang efektif. Tujuan-PkM: meningkatkan pengetahuan dan kesadaran anak-remaja tentang risiko dan bahaya ngelem dengan metode-edukasi, memotivasi anak-remaja untuk berkarakter dan berperilaku baik dengan metode intervensi-berbasis-agama yaitu dengan pengucapan-janji berakhlakul-karimah. Metode: PkM dilaksanakan pada hari-Senin 24-Maret-2025 di Musholla-Kandis Rumah-Tigo-Ruang kota-Padang. Edukasi dilakukan dengan metode-ceramah, intervensi-berbasis-agama dilakukan dengan pengucapan-janji berakhlakul-karimah oleh 33 anak-remaja peserta pesantren-ramadhan. Peningkatan pengetahuan diukur menggunakan kuesioner pre-test dan post-test. Hasil: Dari 10 soal yang dijawab oleh 33 anak-remaja 1) rata-rata jawaban-benar ketika pre-test 13,6 dengan jawaban-benar terendah 5 dan tertinggi 20. 2) rata-rata jawaban-benar ketika post-test 30,7 dengan jawaban-benar terendah 28 dan tertinggi 33. Artinya ada peningkatan pengetahuan setelah edukasi sebesar 17,1. Intervensi-berbasis-agama dengan mengucapkan janji berakhlakul-karimah telah berhasil membuat anak-remaja termotivasi, dengan indikator: anak-remaja mengucapkan janji dengan bersemangat, berdiri tegap, dengan suara lantang. Kesimpulan: Edukasi tentang risiko dan bahaya ngelem dan Intervensi-berbasis-agama berhasil meningkatkan pengetahuan dan memotivasi anak-remaja untuk berakhlakul-karimah. Diharapkan ilmu-pengetahuan yang didapat serta perilaku-akhlakul-karimah, dapat diterapkan anak-remaja dalam kehidupan sehari-hari.





